Insights

Betapa Mahalnya Hidayah Renungan dari Pertemuan Lama

Sebuah pertemuan teman lama — tentang perubahan, mahalnya hidayah Islam, dan pentingnya berdoa agar hati tetap istiqamah

· 2 min

Betapa Mahalnya Hidayah Renungan dari Pertemuan Lama


Beberapa waktu lalu, saya dipertemukan kembali dengan seorang teman lama. Sudah bertahun-tahun kami tidak berjumpa, mungkin tiga atau empat tahun lamanya. Dahulu, ia dan istrinya dikenal sebagai pasangan yang taat beribadah. Sang istri berpakaian dengan hijab yang sangat tertutup, menjaga kehormatan dirinya. Teman saya pun berusaha menjalankan sunnah, baik dari penampilan maupun amalan sehari-hari.

Namun, saat pertemuan itu, saya terkejut. Penampilan mereka sudah jauh berbeda dari yang saya kenal. Teman saya tidak lagi menjaga sunnah sebagaimana dulu, dan istrinya pun kini tampil tanpa hijab, dengan pakaian yang jauh dari kesan syar'i. Mereka berdua tampak benar-benar meninggalkan kebiasaan sunnah yang dulu mereka jaga.

Kami sama-sama kaget bertemu kembali dalam kondisi seperti itu. Hanya ada tegur sapa singkat, lalu keheningan yang tidak mudah dijelaskan. Setelah itu, mereka melanjutkan jalan pagi mereka, sementara saya terus larut dalam renungan.

Sepanjang jalan, pikiran saya tak henti berputar — betapa mahalnya hidayah Islam dan sunnah. Hidayah bukanlah sesuatu yang bisa diwariskan, dibeli, atau dijaga dengan kekuatan kita sendiri. Ia adalah anugerah Allah yang sangat berharga, yang hanya diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

Allah ﷻ berfirman:

مَن يَهْدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلْمُهْتَدِى وَمَن يُضْلِلْ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْخَٰسِرُونَ

"Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka merekalah orang-orang yang merugi."

QS. Al-A'raf: 178

Dari pertemuan itu saya diingatkan: selama kita masih diberi nikmat Islam, itu adalah karunia yang tidak semua orang pertahankan. Bukan karena kita lebih baik dari mereka. Tapi karena Allah masih menjaga kita — dan itu sendiri sudah merupakan nikmat yang sangat agung. Karena tidak ada jaminan bagi siapapun. Seseorang bisa istiqamah bertahun-tahun, lalu goyah. Seseorang yang jauh bisa Allah datangkan hidayahnya kapan saja. Hati itu tidak pernah benar-benar di tangan kita.

Nabi ﷺ bersabda:

إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ كُلَّهَا بَيْنَ إِصْبَعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ الرَّحْمَنِ كَقَلْبٍ وَاحِدٍ يُصَرِّفُهُ حَيْثُ يَشَاءُ

"Sesungguhnya hati anak Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah Yang Maha Pengasih, Dia membolak-balikkan hati itu sesuai kehendak-Nya."

HR. Muslim, no. 2654, dari Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiallahu 'anhu

Maka, betapa pentingnya doa agar hati kita tetap istiqamah. Nabi ﷺ sendiri — yang sudah dijamin surga — pun tidak pernah berhenti memohon:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu."

HR. Tirmidzi, no. 2140, dari Anas bin Malik radhiallahu 'anhu

Saya tidak menyalahkan teman saya ataupun istrinya. Hanya saja, hati saya sedih dan berharap semoga Allah mengembalikan mereka kepada kebaikan dan sunnah yang dulu mereka jaga.

Renungan ini menjadi pengingat bagi diri saya sendiri: jangan pernah merasa aman dari hilangnya hidayah, dan jangan pernah lelah berdoa agar Allah menetapkan hati kita di atas agama-Nya. Hidayah itu mahal — dan bila hari ini kita masih merasakannya, itu bukan karena kita layak. Itu karena Allah masih berkenan.

Sandi Maulana Juhana