Insights

Ketika Semua Orang Ingin Terlihat

Tentang validasi, perhatian, dan budaya ingin terlihat di era media sosial — membahas karya, privasi, ketenangan, dan ketika suara perlahan menjadi lebih besar daripada makna.

· 5 min

Ketika Semua Orang Ingin Terlihat


Kita hidup di zaman ketika hampir semua hal ingin ditunjukkan.

Makanan difoto. Kesedihan dibagikan. Pencapaian diumumkan. Kebahagiaan dipublikasikan. Bahkan sebagian orang mulai merasa bahwa hidupnya belum benar-benar terjadi sebelum dilihat orang lain.

Media sosial perlahan mengubah perhatian menjadi sesuatu yang sangat bernilai. Semakin terlihat, semakin dianggap ada. Semakin ramai dibicarakan, semakin dianggap berhasil.

Di era seperti ini, diam terasa aneh. Privasi dianggap membosankan. Kesederhanaan dianggap tidak menarik. Dan ketenangan sering kalah oleh keramaian.

Padahal mungkin, tidak semua hal harus dilihat orang lain.


Manusia dan Keinginan untuk Diakui

Sebenarnya keinginan untuk diakui bukan sesuatu yang baru.

Manusia sejak dulu ingin dihargai, dipuji, dianggap penting, dan diterima. Itu bagian dari tabiat manusia.

Media sosial tidak menciptakan sifat itu. Ia hanya memperbesar dan mempercepatnya.

Allah ﷻ berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam harta dan anak...

QS. Al-Hadid: 20

Ayat ini menunjukkan bahwa kecenderungan manusia untuk: ingin terlihat, ingin dipuji, ingin lebih unggul, dan ingin diakui, sebenarnya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an jauh sebelum hadirnya media sosial.

Media sosial hanya mengubah bentuknya menjadi lebih cepat, lebih terbuka, dan lebih masif.

Hari ini seseorang bisa mendapatkan perhatian ribuan orang hanya dalam hitungan detik. Dan perhatian itu perlahan berubah menjadi candu.

Banyak penelitian modern menunjukkan bahwa validasi sosial di media sosial dapat memengaruhi sistem reward di otak manusia, terutama melalui pelepasan dopamine yang berkaitan dengan rasa senang dan keinginan untuk mengulang perilaku tertentu.

Penelitian dari Harvard University menunjukkan bahwa berbicara tentang diri sendiri dapat mengaktifkan area otak yang berkaitan dengan reward dan kesenangan. Selain itu, penelitian yang dipublikasikan di Nature Communications menemukan bahwa interaksi sosial digital seperti likes dan feedback sosial dapat memengaruhi perilaku manusia secara berulang melalui mekanisme reward sosial.

Akhirnya, tanpa sadar sebagian orang mulai membangun hidup bukan untuk menjadi sesuatu.

Tetapi untuk terlihat menjadi sesuatu.

Dan mungkin itu salah satu penyakit terbesar zaman ini.


Ketika Suara Lebih Besar daripada Karya

Hari ini hampir semua hal terasa harus dikomentari.

Semua topik dibahas. Semua peristiwa diminta opini. Dan perlahan, diam mulai dianggap tidak relevan.

Bahkan kadang seseorang berbicara tentang sesuatu yang belum benar-benar ia pahami.

Bukan karena ia ahli. Tetapi karena algoritma lebih menghargai kecepatan daripada kedalaman.

Semakin yakin seseorang berbicara, semakin mudah dipercaya. Padahal keyakinan tidak selalu berarti ilmu.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.

HR. Sahih al-Bukhari no. 6018 dan Sahih Muslim no. 47

Dalam Islam, lisan bukan sesuatu yang ringan.

Banyak ulama salaf justru sangat takut berbicara tanpa ilmu. Sebagian mereka lebih memilih diam daripada mengatakan sesuatu yang belum pasti benar.

Imam Malik pernah ditanya puluhan pertanyaan, dan pada banyak pertanyaan beliau menjawab:

“Aku tidak tahu.”

Padahal beliau adalah salah satu imam terbesar dalam sejarah Islam.

Semakin dalam ilmu seseorang, biasanya semakin besar kehati-hatiannya.

Karena ia sadar bahwa tidak semua hal perlu dikomentari.


Orang-Orang Besar yang Tidak Sibuk Menampilkan Diri

Menariknya, banyak orang yang paling berpengaruh dalam sejarah justru tidak hidup untuk terlihat.

Kita membaca karya mereka ratusan tahun kemudian, tetapi tidak tahu bagaimana rumah mereka, pakaian mereka, atau kehidupan pribadi mereka secara detail.

Yang bertahan bukan pencitraannya. Tetapi manfaatnya.

Imam Nawawi menulis karya yang masih dipelajari hingga hari ini. Imam Bukhari menghabiskan hidupnya mengumpulkan hadits dengan kehati-hatian luar biasa. Imam Syafi'i dikenal karena kedalaman ilmu dan adabnya.

Mereka tidak membangun “personal branding” seperti yang dipahami hari ini. Mereka tidak hidup untuk menjadi pusat perhatian.

Bahkan banyak ulama salaf takut terhadap ketenaran.

Karena ketenaran bisa merusak hati. Pujian bisa melahirkan riya. Dan perhatian manusia bisa membuat seseorang lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Ayyub As-Sikhtiyani pernah berkata:

"Tidaklah seorang hamba semakin terkenal kecuali Allah akan semakin menjauhkannya.”

Disebutkan dalam: Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim (3/9)

Ibrahim bin Adham pernah berkata:

“Tidaklah Allah menjadikan seseorang jujur kepada-Nya lalu ia suka ketenaran.”

Disebutkan dalam kitab Siyar A‘lam an-Nubala karya Adh-Dhahabi.

Perkataan seperti ini menunjukkan bahwa generasi awal Islam memahami satu hal penting: perhatian manusia bisa menjadi ujian yang sangat halus bagi hati.


Apakah Tampil Selalu Salah?

Tentu tidak.

Tidak semua orang yang tampil berarti riya. Tidak semua personal branding adalah kesombongan.

Bisnis tetap membutuhkan komunikasi. Karya tetap perlu diperkenalkan. Dakwah tetap perlu disampaikan.

Para nabi pun menyampaikan risalah secara terbuka. Para ulama menulis kitab agar dibaca manusia.

Masalahnya bukan pada terlihat atau tidak terlihat.

Masalahnya adalah ketika perhatian berubah menjadi tujuan utama.

Ketika seseorang lebih sibuk membangun citra daripada kapasitas. Lebih sibuk terlihat sukses daripada benar-benar bertumbuh. Lebih sibuk terdengar pintar daripada benar-benar belajar.

Di titik itu, hidup perlahan berubah menjadi pertunjukan.


Tentang Privasi dan Ketenangan

Ada sesuatu yang mulai hilang di zaman ini: privasi.

Hari ini banyak orang merasa semua hal harus diumumkan. Padahal tidak semua kebahagiaan perlu dipertontonkan. Tidak semua luka perlu dipublikasikan. Tidak semua pencapaian perlu diumumkan.

Sebagian ketenangan justru lahir ketika hidup tidak terlalu banyak dilihat manusia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.

HR. Jami' at-Tirmidhi no. 2317 Dinilai hasan oleh Imam Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al-Albani.

Dan dalam banyak nasihat ulama, terlalu sibuk dengan urusan manusia sering membuat hati kehilangan ketenangan.

Orang yang paling tenang bukan selalu orang yang memiliki segalanya. Kadang justru orang yang tidak sibuk membandingkan hidupnya dengan semua orang.


Tentang Tulisan Ini

Mungkin ada yang bertanya:

“Bukankah tulisan ini juga ingin dibaca?” “Bukankah membagikan tulisan seperti ini tetap bentuk mencari perhatian?”

Dan mungkin ada benarnya.

Karena selama sesuatu dipublikasikan, pasti ada harapan bahwa ia akan dilihat manusia.

Tidak ada manusia yang benar-benar steril dari keinginan untuk dihargai atau didengar.

Termasuk tulisan ini.

Tetapi mungkin ada perbedaan antara: ingin menyampaikan sesuatu yang dianggap bermanfaat, dengan menjadikan perhatian manusia sebagai tujuan utama kehidupan.

Tulisan ini bukan ajakan untuk membenci dunia, membenci media sosial, atau merasa lebih baik daripada orang lain.

Allah ﷻ berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

Maka janganlah kalian menganggap diri kalian suci. Dia lebih mengetahui siapa yang benar-benar bertakwa.

QS. An-Najm: 32

Karena bisa jadi pembahasan tentang validasi dan perhatian justru menjadi ujian baru bagi hati: merasa lebih baik daripada orang lain.

Dan bisa jadi penulisnya sendiri masih sering salah, masih ingin dipuji, masih senang dihargai, dan masih belajar menjaga hati.

Tulisan ini hanya sebuah pengingat: bahwa di era ketika semua orang ingin terlihat, mungkin kita sesekali perlu belajar untuk kembali tenang.

Belajar berkarya tanpa harus selalu menjadi pusat perhatian.

Dan belajar bahwa tidak semua hal yang bernilai harus selalu diumumkan kepada dunia.


Mungkin Kita Semua Pernah Ingin Terlihat

Kalau dipikir-pikir, mungkin hampir semua manusia pernah ingin dipuji.

Ingin dianggap berhasil. Ingin terlihat pintar. Ingin dihargai. Ingin diperhatikan.

Dan itu manusiawi.

Tulisan ini bukan untuk merasa lebih suci daripada orang lain. Karena bisa jadi kita sendiri pernah menikmati validasi itu.

Tetapi mungkin kita perlu sesekali bertanya kepada diri sendiri:

Apakah kita benar-benar sedang membangun sesuatu? Atau hanya sibuk terlihat seperti sedang membangun sesuatu?

Apakah kita ingin bermanfaat? Atau hanya ingin diperhatikan?

Karena pada akhirnya, perhatian manusia selalu sementara.

Hari ini dipuji. Besok dilupakan.

Tetapi karya yang lahir dengan keikhlasan, ilmu, dan manfaat — sering kali hidup jauh lebih lama daripada pemiliknya sendiri.

Karena sebagian hal yang paling bernilai dalam hidup, sering kali tumbuh dalam diam.

Sandi Maulana Juhana