Kemenangan yang Tak Pernah Kita Raih: Tentang Game, Dopamin, dan Kekosongan Modern
Sebuah refleksi tentang mengapa orang dewasa bermain game: dari pelarian stres, kebutuhan kendali, dopamin instan, hingga kekosongan eksistensial era modern. Tulisan ini saya tujukan untuk memahami motif di balik kebiasaan gaming, menimbang ulang arah hidup, dan mengajak diri kembali hadir dalam realitas yang lebih bermakna.
1. Dunia yang Lelah
Kita hidup di masa ketika manusia lebih sering mencari pelarian daripada makna.
Hari-hari berjalan cepat, kepala penuh target, tubuh lelah tapi pikiran jarang diam.
Di tengah kebisingan itu, game menjadi tempat paling aman untuk bersembunyi.
Tidak menuntut penjelasan, tidak menilai, hanya memberi ruang kecil di mana kita bisa merasa mampu lagi.
Di sana, kita kembali menjadi seseorang: kuat, tangkas, berdaya.
Di dunia yang sering membuat kita merasa kecil, game seakan mengembalikan kendali yang hilang.
Maka wajar bila jutaan orang dewasa — bukan anak-anak — kini bermain, bukan untuk menang, tapi untuk merasakan hidup sebentar.
2. Mengapa Kita Bermain
Tidak semua orang bermain untuk alasan yang sama.
Ada yang melakukannya hanya untuk melepas stres setelah kerja.
Ada yang menjadikannya profesi: disiplin, kompetitif, dengan tekanan seperti pekerjaan apa pun.
Dan ada pula yang berkata, “Lebih baik main game daripada main judi, mabuk, atau hal lain yang merusak.”
Mungkin semua alasan itu benar dalam kadar tertentu.
Tapi di balik beragam motif itu, ada satu kesamaan:
kita sedang mencari sesuatu yang sulit kita temukan di dunia nyata —
rasa menang, rasa berharga, rasa cukup.
Sesuatu yang sederhana, tapi sering luput dari kehidupan modern yang menuntut terlalu banyak.
3. Dunia Virtual dan Ilusi Kendali
Game menawarkan dunia yang rapi dan masuk akal.
Kalau gagal, ulangi. Kalau kalah, belajar. Kalau menang, lanjut.
Tidak ada birokrasi, tidak ada ketidakadilan, tidak ada faktor tak terduga seperti hidup.
Mungkin karena itulah kita betah.
Di dunia virtual, segalanya bisa diulang sampai berhasil.
Sementara di dunia nyata, satu kesalahan bisa mengubah segalanya — dan tidak semua luka bisa di-restart.
Setiap level yang naik memberi sensasi keberhasilan,
meskipun keberhasilan itu berhenti di layar.
Di situlah dopamin bekerja: penghargaan instan tanpa risiko.
Sedikit demi sedikit, otak mulai mengira bahwa kemenangan kecil yang cepat itu cukup untuk menggantikan perjuangan yang panjang.
4. Recharge vs Escape
Bermain game tidak selalu salah.
Kadang, itu memang bentuk rehat paling mudah dijangkau —
cara untuk menenangkan pikiran tanpa harus berbicara dengan siapa pun.
Bagi sebagian orang, itu bahkan semacam meditasi modern: fokus penuh, hilang dari dunia sesaat.
Tapi garis antara recharge dan escape sangat tipis.
Recharge membuat kita siap kembali ke dunia nyata.
Escape membuat kita lupa bahwa dunia nyata masih menunggu.
Masalahnya bukan pada gamenya, tapi pada alasan kita tidak bisa berhenti.
Karena ketika pelarian jadi kebutuhan, yang hilang bukan hanya waktu, tapi arah.
5. Profesionalisme dan Ilusi Produktivitas
Ada yang bermain secara profesional.
Mereka berlatih, berkompetisi, menghasilkan uang, bahkan menciptakan industri baru.
Dan itu sah — sama seperti aktor yang berakting atau atlet yang berlomba.
Namun, bahkan di tingkat tertinggi, pertanyaannya tetap sama:
setelah lampu padam dan layar dimatikan, apa yang tersisa?
Game, seindah apa pun, tetap dunia buatan.
Kemenangan di sana nyata secara emosi, tapi fana secara eksistensi.
Dan di situlah paradoksnya: kita mencari makna dari hal yang tidak dirancang untuk memberi makna.
6. Argumen “Lebih Baik Main Game daripada yang Lain”
Benar, bermain game tidak merusak seperti mabuk, berjudi, atau berselingkuh.
Tapi membenarkan sesuatu karena “lebih baik dari keburukan lain”.
sering membuat kita lupa mencari arah yang benar-benar baik.
Hidup tidak diukur dari seberapa sedikit kesalahan kita,
tapi dari seberapa jauh kita tumbuh.
Dan pertumbuhan tidak lahir dari pembenaran,
melainkan dari keberanian menatap diri sendiri apa adanya —
termasuk saat sadar bahwa kita sedang mengisi kekosongan dengan hal yang tidak benar-benar mengisinya.
7. Dari Bermain ke Membangun
Mungkin kita tidak harus berhenti bermain sepenuhnya.
Tapi kita bisa memindahkan semangatnya:
dari menaklukkan dunia digital menjadi menaklukkan tantangan nyata.
Rasa ingin menang, rasa ingin maju, rasa ingin jadi lebih baik —
itu bukan milik game. Itu milik manusia.
Dan saat diarahkan ke tempat yang benar,
energi yang sama bisa melahirkan karya, ilmu, bahkan peradaban.
Karena sebenarnya, game mengajari banyak hal: strategi, ketekunan, fokus.
Kita hanya perlu membawa pelajarannya keluar dari layar.
8. Ajakan untuk Meninggalkan Game
Namun pada titik tertentu, kita perlu berani berkata cukup.
Tidak karena game itu dosa, tapi karena hidup ini terlalu singkat untuk terus diulang-ulang tanpa arah.
Menutup konsol, menghapus aplikasi, atau sekadar menolak satu kali ajakan bermain —
itu mungkin langkah kecil, tapi juga tanda bahwa kita sedang kembali memilih hidup kita sendiri.
Kadang, proses meninggalkan bukan tentang melawan kesenangan,
tapi tentang memulihkan kendali atas diri.
Dan kalau suatu hari kamu masih merasa menyesal setelah bermain terlalu lama,
itu pertanda baik — hatimu belum mati, nuranimu masih berfungsi.
Bersyukurlah kalau kamu masih bisa merasa bersalah,
karena itu artinya kamu masih ingin berubah.
9. Pengingat bagi yang Muslim
Bagi siapa pun yang beriman, Allah sudah memberi peringatan lembut dalam Al-Qur’an:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Asr: 1–3)
Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu karenanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Serta sebuah peringatan yang menggugah hati:
“Apabila Allah menghendaki keburukan bagi seorang hamba, maka Dia akan menyibukkannya dengan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani)
Waktu adalah modal kehidupan.
Ia tidak bisa diulang, tidak bisa disimpan, dan tidak bisa dikembalikan.
Setiap jam yang kita buang di dunia maya, adalah jam yang tidak akan pernah kembali di dunia nyata.
10. Kemenangan yang Tak Pernah Kita Raih
Kita terus mengejar kemenangan di layar,
padahal yang kita rindukan adalah kemenangan di dalam diri.
Bukan tentang skor, tapi tentang rasa cukup.
Bukan tentang karakter yang naik level, tapi tentang manusia yang tumbuh sadar.
Pada akhirnya, manusia akan selalu butuh permainan.
Namun permainan yang baik seharusnya membuat kita lebih hidup, bukan lebih kosong.
Mungkin di balik semua game yang kita mainkan,
yang paling sulit ditamatkan adalah permainan yang bernama hidup.
Dan barangkali, kemenangan sejati adalah ketika kita berhenti bermain untuk kabur,
dan mulai hidup untuk benar-benar hadir.
