Insights

Ketika Ruang Publik Menjadi Tempat Sampah Emosi

Catatan setelah dua bulan mencoba aktif di media sosial untuk sebuah brand — tentang screenshot yang disebar untuk mempermalukan, kesedihan yang dipertontonkan, pencapaian yang dipamerkan tanpa isi, dan bagaimana pengamatan itu berujung pada keputusan untuk menjaga jarak.

· 4 min

Ketika Ruang Publik Menjadi Tempat Sampah Emosi


Saya Tidak Sedang Mencari Perhatian, Hanya Ingin Brand Ini Hadir

Beberapa waktu lalu saya mulai mencoba lebih aktif di media sosial. Bukan untuk diri saya sendiri — saya tidak punya akun pribadi sejak lama — tetapi untuk salah satu brand yang saya jalankan.

Niatnya sederhana. Saya ingin brand itu hadir. Tidak harus viral, tidak harus ramai, cukup ada, dikenal, dan dipercaya oleh orang-orang yang memang membutuhkannya.

Di antara proses itu, sesekali saya menanggapi utas yang sedang ramai dibicarakan, ketika memang terasa nyambung untuk ditanggapi. Beberapa kali tanggapan itu direspons lebih banyak dari yang saya duga. Tapi itu bukan inti dari apa yang ingin saya tuliskan di sini.

Yang lebih membekas justru apa yang saya lihat setelahnya.


Ruang yang Mengajarkan Saya untuk Bertanya

Semakin lama saya berada di ruang itu, semakin banyak hal yang membuat saya berhenti sejenak dan bertanya-tanya: kenapa ini harus dibagikan?

Ada percakapan pribadi — permintaan izin sesederhana menjemur pakaian di halaman tetangga — yang justru difoto layar dan disebarkan, lengkap dengan narasi yang membuat pihak lain terlihat menyebalkan di mata orang banyak. Ada kesedihan yang dirangkai serapi mungkin, difoto dengan sudut yang pas, ditulis dengan kalimat yang menyentuh, seolah luka itu perlu disaksikan orang banyak agar terasa nyata.

Ada juga yang lebih halus. Seseorang menunjukkan hasil, angka, pencapaian — tapi begitu ditanya apa sebenarnya yang dijual atau dikerjakan, jawabannya berbelit atau tidak pernah datang. Seolah yang ingin dibagikan bukan karyanya, tapi kesan bahwa ia berhasil.

Dan ada yang paling sering: opini yang dilontarkan dengan sangat yakin, oleh orang yang sebenarnya belum tentu memahami apa yang sedang ia bicarakan. Kepercayaan diri berbicara lebih dulu, ilmu menyusul kemudian — kalau menyusul sama sekali.

Saya sempat berpikir, apakah dunia digital memang selalu seperti ini, atau saya yang baru menyadarinya karena sekian lama memilih untuk tidak berada di sana.

Rasanya bukan kebetulan. Ruang yang membuat orang terus kembali, terus mengecek, terus membagikan — itu bukan sesuatu yang tumbuh sendiri. Ada rancangan di baliknya, cara kerja yang membuat perhatian terasa berharga dan diam terasa merugikan. Saya pernah menuliskan sedikit tentang sisi ini di Instagram, Waktu, dan Pikiran yang Tidak Lagi Sama — tentang bagaimana waktu bisa hilang tanpa terasa di ruang semacam ini.


Ternyata Saya Pun Ikut Terseret

Yang membuat saya benar-benar berhenti bukan hanya karena melihat pola-pola itu pada orang lain.

Tapi karena saya sendiri mulai merasakannya.

Niat saya di awal hanya ingin memahami ekosistemnya, sekadar riset untuk kebutuhan brand. Tapi tanpa disadari, saya juga ikut membuka aplikasi itu berkali-kali, menggulir tanpa tujuan, dan waktu berjalan jauh lebih cepat dari yang saya kira. Bukan karena sedang mencari sesuatu yang penting. Hanya karena selalu ada sesuatu berikutnya untuk dilihat.

Di titik itu saya sadar, mengamati keanehan orang lain ternyata tidak membuat saya kebal dari keanehan yang sama. Saya bagian dari sistem yang sama, bukan penonton yang berdiri di luar.


Dunia yang Sudah Dijelaskan Jauh Sebelum Ada Layar

Allah ﷻ berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan, senda gurau, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam harta dan anak...

QS. Al-Hadid: 20

Ayat ini seperti menjelaskan apa yang saya saksikan hari-hari itu. Saling berbangga bukan hal baru, hanya bentuknya berubah — dulu lewat obrolan dan tatap muka, sekarang lewat unggahan yang bisa dilihat ribuan orang dalam hitungan detik.

Saya juga kembali teringat pada satu hadis yang sudah lama saya renungkan, dan pernah saya tuliskan lebih dalam di Ketika Semua Orang Ingin Terlihat:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ التَّقِيَّ الْغَنِيَّ الْخَفِيَّ

Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, berkecukupan, dan tersembunyi.

HR. Muslim no. 2965

Bukan berarti seseorang harus menjauh dari manusia atau menolak untuk dikenal. Yang dijaga di sini adalah supaya perhatian manusia tidak menjadi tujuan hidup, dan supaya hati tidak diam-diam mulai bekerja demi dilihat, bukan demi benar.

Melihat pola-pola yang saya amati kemarin, rasanya seperti membaca ulang dua pesan itu dalam bentuk yang lebih nyata. Yang dulu terasa seperti nasihat, sekarang terasa seperti peringatan yang tepat sasaran.


Arah yang Saya Pilih Setelahnya

Dari renungan itu, saya mulai mengambil beberapa arah yang lebih jelas.

Saya mengamankan nama saya sendiri di media sosial, tapi tidak buru-buru mengisinya. Biar ada, tapi tidak untuk dikejar keramaiannya — hanya akan saya isi kalau memang ada karya atau kerja yang layak diperlihatkan.

Untuk brand, saya tetap hadir, tapi dengan batasan yang jelas: hanya ketika ada momen nyata yang layak dibagikan — pelanggan, produk, aktivitas keseharian usaha — bukan sekadar mengisi ruang kosong demi terlihat aktif.

Dan satu hal kecil yang ternyata berpengaruh besar: saya berhenti memasang aplikasi itu di ponsel. Kalau perlu, saya buka lewat peramban di laptop. Jaraknya sedikit lebih jauh, tapi entah kenapa pikiran terasa jauh lebih tenang.


Yang Tersisa Ketika Ruangnya Sudah Sepi

Barangkali ruang yang paling ramai bukan selalu ruang yang paling bermakna.

Dan ketenangan yang tidak dilihat siapa pun, kadang jauh lebih berharga daripada perhatian yang dilihat oleh semua orang.

Sandi Maulana Juhana