Sandi Maulana Juhana

Reflection

15 items

March 5, 2026 at 6:48 PM

Instagram, Waktu, dan Pikiran yang Tidak Lagi Sama

Refleksi penggunaan Instagram selama satu bulan, dampaknya terhadap waktu, fokus, dan kesehatan mental, dilengkapi data ilmiah dan riset terpercaya.

Og Image

Catatan tentang Media Sosial, Waktu, dan Kesadaran Diri

Beberapa waktu terakhir, saya mencoba menggunakan Instagram untuk salah satu brand yang saya miliki.

Kurang lebih satu bulan.

Awalnya sederhana. Saya hanya ingin memahami bagaimana ekosistem di dalamnya bekerja—bagaimana orang berinteraksi, bagaimana konten bergerak, dan bagaimana brand hidup di sana.

Namun setelah dijalani, pengalaman yang saya rasakan ternyata tidak sesederhana itu.

Tulisan ini bukan kritik terhadap Instagram.

Ini lebih seperti catatan pribadi tentang satu hal yang saya rasakan cukup jelas: bagaimana sebuah platform bisa memengaruhi waktu, pikiran, dan cara kita melihat dunia.

1. Waktu yang Hilang Tanpa Terasa

Hal pertama yang paling terasa adalah waktu.

Tanpa sadar, saya bisa menghabiskan 1 sampai 2 jam hanya untuk scrolling. Bukan karena sedang mencari sesuatu yang spesifik, tetapi karena selalu ada konten berikutnya.

Fenomena ini ternyata bukan pengalaman pribadi semata.

Menurut laporan dari DataReportal – Digital 2024 Global Overview Report, rata-rata pengguna internet global menghabiskan sekitar 2 jam 23 menit per hari di media sosial.

Di Indonesia, angkanya bahkan lebih tinggi dan mendekati 3 jam per hari.

Artinya, kehilangan waktu ini bukan kebetulan.

Ini adalah pola.

2. Sistem yang Tidak Pernah Selesai

Semakin saya perhatikan, saya mulai memahami satu hal:

Ini bukan hanya soal kebiasaan.

Ini adalah sistem.

Platform seperti :contentReference[oaicite:0]{index=0} dirancang dengan algoritma yang:

  • mempelajari perilaku pengguna
  • menampilkan konten yang relevan secara personal
  • dan menjaga agar pengguna tetap berada di dalam aplikasi

Penelitian dari Pew Research Center menunjukkan bahwa platform digital modern sangat bergantung pada mekanisme engagement-driven design—yang membuat pengguna terus kembali dan sulit berhenti.

Dalam praktiknya, tidak ada titik “selesai”.

Selalu ada konten berikutnya.

3. Ketika Konten Tidak Lagi Selaras

Di luar soal waktu, ada hal lain yang saya rasakan.

Yaitu isi dari konten itu sendiri.

Banyak hal yang saya temui:

  • terlalu membuka privasi
  • tidak memiliki nilai yang jelas
  • atau sekadar hal-hal yang terasa tidak perlu dibagikan

Bukan berarti tidak ada manfaat.

Tetap ada:

  • informasi produk
  • insight singkat
  • kemudahan komunikasi

Namun jika dibandingkan secara jujur, manfaat tersebut terasa jauh lebih kecil dibanding kebisingan yang muncul.

Dan di titik itu, saya mulai merasa tidak selaras.

4. Dampak yang Didukung Penelitian

Pengalaman ini ternyata memiliki dasar ilmiah.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam JAMA Psychiatry (2019) menemukan bahwa penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko:

  • depresi
  • kecemasan
  • penurunan kesejahteraan psikologis

Selain itu, systematic review dari National Institutes of Health (NIH) menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berlebihan dapat:

  • mengganggu fokus
  • meningkatkan impulsivitas
  • memicu pola perilaku adiktif

Laporan dari U.S. Surgeon General (HHS) juga menyebutkan bahwa penggunaan media sosial lebih dari 3 jam per hari berkaitan dengan peningkatan risiko masalah kesehatan mental, terutama pada usia muda.

Sementara itu, World Health Organization (WHO) menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan dalam penggunaan teknologi digital terhadap kesehatan mental secara keseluruhan.

Menariknya, dampak ini tidak selalu terasa langsung.

Kadang muncul dalam bentuk kecil:

  • sulit fokus
  • pikiran terasa penuh
  • kelelahan tanpa sebab yang jelas

5. Kesimpulan yang Sederhana

Dari semua itu, saya menemukan satu hal yang sangat sederhana:

Saya merasa lebih nyaman ketika tidak membuka Instagram.

Bukan karena saya menolak teknologi.

Tapi karena saya merasa:

  • lebih tenang
  • lebih fokus
  • lebih sesuai dengan cara saya berpikir

Ini bukan teori.

Ini pengalaman langsung.

6. Tidak Semua Orang Harus Cocok

Seringkali kita mendengar bahwa Instagram bisa:

  • menghasilkan uang
  • membangun personal branding
  • membuka peluang

Dan itu benar.

Namun ada satu hal yang jarang dibicarakan:

Tidak semua orang harus cocok dengan cara tersebut.

Ada orang yang lebih nyaman dengan:

  • tulisan panjang
  • pemikiran yang mendalam
  • proses yang tidak terburu-buru

Dan mungkin, saya adalah salah satunya.

Kesimpulan

Tulisan ini bukan tentang menolak media sosial.

Tapi tentang memahami diri.

Bahwa:

  • tidak semua ruang harus kita masuki
  • tidak semua hal perlu kita konsumsi
  • dan tidak semua sistem cocok untuk kita jalani

Instagram mungkin adalah ruang yang ramai.

Namun tidak semua orang tumbuh di keramaian.

Sebagian orang justru lebih jernih dalam ketenangan.

Dan bagi saya, itu bukan kekurangan.

Itu arah.