Sandi Maulana Juhana

Social Commentary

1 item

May 6, 2026 at 6:40 AM

Kata “Sepakat”, Perang Gender, dan Dunia yang Terlalu Sibuk Saling Membalas

Tentang viralnya kata “sepakat”, budaya potongan konteks di media sosial, konflik antar gender, dan bagaimana Islam sebenarnya memandang laki-laki dan perempuan bukan sebagai rival, tetapi sebagai pasangan yang saling melengkapi.

Og Image

Kata “Sepakat”, Perang Gender, dan Dunia yang Terlalu Sibuk Saling Membalas

Belakangan ini media sosial ramai membahas satu kata sederhana:

“Sepakat.”

Awalnya hanya bagian kecil dari sebuah percakapan.

Namun seperti banyak hal lain di internet, sesuatu yang awalnya kecil perlahan berubah menjadi besar setelah dipotong, dipercepat, dijadikan template, lalu disebarkan tanpa konteks yang utuh.

Potongan video itu akhirnya melahirkan banyak reaksi.

Sebagian perempuan merasa: akhirnya ada laki-laki yang mengakui bahwa menjadi perempuan memang tidak mudah.

Sebagian laki-laki justru melihat kata “sepakat” sebagai bentuk diplomasi sosial: cara paling aman untuk menghentikan debat yang tidak akan pernah selesai.

Sebagian lain malah menganggapnya sebagai sindiran pasif-agresif: cara halus untuk membuat lawan bicara berhenti berbicara terlalu panjang.

Dan seperti biasa, internet mulai melakukan hal yang paling ia sukai: membelah manusia menjadi dua kubu.

Budaya Internet yang Tidak Lagi Membutuhkan Konteks

Salah satu masalah terbesar media sosial modern adalah: orang tidak lagi bereaksi terhadap kenyataan yang utuh.

Mereka bereaksi terhadap potongan.

Potongan video. Potongan kalimat. Potongan emosi. Potongan pengalaman hidup.

Padahal manusia tidak pernah sesederhana potongan berdurasi tiga puluh detik.

Namun algoritma internet memang tidak dibangun untuk membantu manusia memahami konteks.

Ia dibangun untuk mempertahankan perhatian.

Dan cara tercepat mempertahankan perhatian manusia adalah emosi:

  • marah,
  • tersinggung,
  • merasa diserang,
  • merasa dibela,
  • atau merasa paling dipahami.

Karena itu konflik gender hampir selalu mudah viral.

Sebab hampir semua orang memiliki pengalaman emosional terkait lawan jenis.

Ada perempuan yang pernah merasa diremehkan. Ada laki-laki yang pernah merasa tidak dihargai. Ada yang pernah disakiti. Ada yang pernah diperlakukan tidak adil.

Lalu ketika melihat satu potongan percakapan di internet, pengalaman pribadi itu langsung ikut berbicara.

Akhirnya orang tidak lagi membahas video tersebut secara objektif.

Mereka sedang membahas luka mereka sendiri.

Ketika Validasi Emosi Berubah Menjadi Generalisasi Gender

Yang menarik, banyak perdebatan gender hari ini sebenarnya berawal dari sesuatu yang valid: keinginan manusia untuk dipahami.

Masalah muncul ketika pengalaman pribadi mulai digeneralisasi menjadi identitas seluruh gender.

Misalnya:

akhirnya berubah menjadi: “laki-laki memang seperti itu.”

  • satu pengalaman buruk dengan laki-laki,

Atau:

akhirnya berubah menjadi: “perempuan memang tidak pernah mengerti.”

  • satu pengalaman buruk dengan perempuan,

Padahal pengalaman manusia selalu jauh lebih kompleks.

Tidak semua laki-laki sama. Tidak semua perempuan sama.

Namun internet menyukai penyederhanaan.

Karena semakin sederhana sebuah narasi, semakin mudah ia viral.

Akhirnya media sosial perlahan membentuk kebiasaan baru: manusia tidak lagi melihat individu, tetapi melihat kelompok.

Dan ketika seseorang sudah berhenti melihat individu, empati biasanya mulai hilang.

Kata “Sepakat” dan Cara Laki-Laki Menghadapi Konflik

Salah satu hal yang menurut saya jarang dibahas adalah: banyak laki-laki sebenarnya tumbuh dengan pola komunikasi yang berbeda.

Sejak kecil, banyak laki-laki diajarkan:

  • jangan terlalu emosional,
  • jangan terlalu banyak bicara,
  • jangan terlalu memperpanjang masalah,
  • selesaikan,
  • diam,
  • lanjut hidup.

Karena itu dalam banyak situasi, sebagian laki-laki memang memilih:

  • diam,
  • menghindari debat,
  • atau mengakhiri percakapan secepat mungkin.

Bukan selalu karena mereka tidak peduli.

Kadang justru karena mereka tidak tahu bagaimana melanjutkan percakapan tanpa membuat keadaan lebih buruk.

Di titik inilah kata “sepakat” menjadi menarik.

Karena bagi sebagian laki-laki, kata itu bukan berarti: “saya kalah.”

Tetapi: “saya tidak ingin konflik ini terus membesar.”

Namun di internet, niat seperti ini sering kehilangan konteksnya.

Karena media sosial tidak melihat ekspresi wajah. Tidak melihat nada bicara. Tidak melihat hubungan antar manusia secara utuh.

Internet hanya melihat teks dan potongan suara.

Perempuan dan Beban yang Sering Tidak Terlihat

Di sisi lain, tidak bisa dipungkiri bahwa banyak perempuan memang memikul beban yang sering tidak terlihat.

Bukan hanya pekerjaan fisik, tetapi juga beban mental:

  • memikirkan banyak hal sekaligus,
  • menjaga emosi keluarga,
  • menjadi tempat cerita,
  • menjaga hubungan tetap baik,
  • sambil tetap dituntut kuat.

Karena itu banyak perempuan merasa lelah ketika pengalaman mereka dianggap berlebihan atau terlalu emosional.

Dan perasaan seperti ini sebenarnya valid.

Masalahnya, validasi emosi berbeda dengan menjadikan gender lain sebagai musuh.

Sebab ketika rasa lelah berubah menjadi kebencian kolektif, maka hubungan laki-laki dan perempuan perlahan berubah menjadi arena saling membalas.

Dunia Modern Semakin Mendorong Manusia Untuk Saling Curiga

Hari ini kita hidup di era ketika:

  • perempuan terus diingatkan untuk waspada terhadap laki-laki,
  • laki-laki juga terus diingatkan untuk hati-hati terhadap perempuan.

Sedikit demi sedikit, hubungan antar manusia mulai dibangun di atas kecurigaan.

Padahal hubungan yang sehat tidak mungkin lahir dari rasa curiga yang terus dipelihara.

Ironisnya, semakin banyak konten tentang:

  • “red flag laki-laki,”
  • “red flag perempuan,”
  • “cara menghadapi gender tertentu,”
  • “kenapa semua laki-laki begini,”
  • atau “kenapa perempuan selalu begitu.”

Semakin manusia mengonsumsi konten seperti itu, semakin lawan jenis terlihat seperti ancaman.

Padahal tidak semua hal dalam hidup harus dipandang sebagai pertarungan.

Islam Tidak Membangun Hubungan di Atas Kompetisi Ego

Di tengah dunia yang semakin sibuk memperdebatkan gender, Islam sebenarnya datang dengan pendekatan yang sangat berbeda.

Islam tidak membangun hubungan laki-laki dan perempuan sebagai rivalitas.

Tidak ada konsep: siapa yang harus menang.

Tidak ada konsep: siapa yang lebih penting sebagai manusia.

Islam justru membangun hubungan di atas:

  • tanggung jawab,
  • kasih sayang,
  • ketenangan,
  • dan keadilan.

Allah ﷻ berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”

(QS. Ar-Rum: 21)

Ayat ini menarik karena tujuan hubungan dalam Islam bukan dominasi.

Tetapi ketenteraman.

Bukan saling mengalahkan. Tetapi saling menenangkan.

Islam Mengakui Perbedaan Tanpa Menjadikannya Alasan Untuk Merendahkan

Dunia modern sering menganggap semua perbedaan sebagai bentuk ketidakadilan.

Padahal Islam mengakui bahwa laki-laki dan perempuan memang berbeda.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنثَىٰ

“Dan laki-laki tidaklah seperti perempuan.”

(QS. Ali ‘Imran: 36)

Namun perbedaan dalam Islam bukan alasan untuk merendahkan salah satu pihak.

Karena Islam tidak melihat manusia hanya dari:

  • fisik,
  • kekuatan,
  • emosi,
  • atau peran sosial.

Islam melihat manusia dari ketakwaannya.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)

Karena itu Islam tidak mendorong manusia sibuk menghitung:

  • siapa paling berat hidupnya,
  • siapa paling menderita,
  • atau siapa paling layak dipahami.

Tetapi mendorong manusia untuk:

  • menunaikan tanggung jawabnya,
  • menjaga adabnya,
  • dan berlaku adil kepada orang lain.

Rasulullah ﷺ Tidak Mengajarkan Kebencian Antar Gender

Yang sering terlupakan, Rasulullah ﷺ justru mencontohkan hubungan yang sangat lembut terhadap perempuan.

Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”

(HR. Tirmidzi no. 3895, shahih)

Hadits ini penting.

Karena ukuran kebaikan laki-laki dalam Islam bukan seberapa dominan dirinya, tetapi bagaimana akhlaknya terhadap keluarganya.

Di sisi lain, Islam juga memuliakan perempuan dengan sangat tinggi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”

(HR. Muslim no. 1467)

Artinya hubungan laki-laki dan perempuan dalam Islam tidak dibangun di atas kebencian, tetapi penghormatan.

Masalahnya, Hari Ini Semua Orang Terlalu Sibuk Membalas

Semakin lama saya memperhatikan media sosial, semakin terasa bahwa banyak orang hari ini sebenarnya tidak sedang mencari solusi.

Mereka sedang mencari pelampiasan.

Karena itu internet dipenuhi:

  • konten balasan,
  • sindiran,
  • satire,
  • “counter argument,”
  • dan perang komentar tanpa akhir.

Semua orang ingin didengar. Namun sedikit yang benar-benar mau mendengar.

Akhirnya hubungan antar gender perlahan berubah menjadi: siapa yang paling pandai membalas.

Padahal hubungan tidak pernah tumbuh sehat dari ego yang terus dipertahankan.

Penutup

Mungkin kata “sepakat” memang hanya satu kata sederhana.

Namun viralnya kata itu memperlihatkan sesuatu yang lebih besar: bahwa manusia modern semakin mudah tersulut, semakin mudah menggeneralisasi, dan semakin mudah melihat lawan jenis sebagai lawan.

Padahal laki-laki dan perempuan tidak diciptakan untuk saling membuktikan siapa yang lebih menderita.

Mereka diciptakan untuk saling melengkapi.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu ramai dengan perdebatan gender, kita perlu kembali belajar melihat manusia secara lebih utuh.

Bukan sebagai kubu.

Tetapi sebagai sesama manusia yang sama-sama memiliki luka, tanggung jawab, dan kebutuhan untuk dipahami.